sbenernya sih, nggak begitu yakin juga waktu ngerjain soal kmaren (masih kalut) T----T
Ya moga2 aja bisa dapet hasil yang memuaskan bagi saya, keluarga saya, teman2 saya, kakek-nenek saya, om-tante saya (amiin)
ada suatu rutinitas tersendiri di kalangan pelajar stan apabila uas telah berlalu. apa itu? mudik :D
tanggal 1 yang lalu, dengan hati rindu kampung halaman, kami (penunggu kosan C8 no 7) berbondong-bondong ke stasiun senen. Disambut 'hangat' oleh pak satpam yang ketakutan, dikira bakal ada tawuran di pangkalan tersebut (maklum, sekosan isinya 28 :P)
yah, tidak ada yang spesial dalam perjalanan kami ke malang, hanya perjalanan biasa, dari yang sempat dipalak oleh preman setempat, sampai hampir terdampar di tegal.
ah! betapa senangnya kembali ke kampung halaman! :D
apalagi melihat adik saya yang semakin bundar, ibu saya yang semakin sehat, udara Malang yang begitu segar, sego rawon buatan ibu yang semakin nyamleng tiap kali saya makan, kura-kura saya yang tiba-tiba nambah satu, entah darimana (???)
agak bingung juga, mau ngapain selama liburan ini.
maunya menjalankan rencana awal : menjalankan beberapa perbuatan mulia selama liburan (#bangga) tapi ternyata gagal. Saya mendapati diri saya dalam keadaan sakau gara-gara lama ndak main game sejak uas kemaren T----T
di sela2 perbuatan yang tidak mulia tersebut, saya agaknya tertarik dengan salah satu novel milik ibu saya:
perjalanan sunyi Bisma Dewabrata
buku ini menceritakan salah satu tokoh wayang yang bernama bisma, atas jasa-jasa dan tingkah lakunya yang mulia, serta atas sumpahnya yang tidak biasa, yaitu tidak akan menyentuh satu wanita pun di dunia. Hal ini dikarenakan agar ia tidak mempunyai keturunan yang ditakutkan akan menjurus rasa keinginan bagi keturunan tersebut untuk menduduki kerajaan yang diinginkan oleh ibu raden bisma dewabrata sendiri. Dia mencanangkan sumpahnya atas rasa sayang yang begitu besar terhadap ibunya.
saya sejak kecil tertarik dengan cerita tentang tokoh bisma tersebut, mengingat nama pertama saya dulu yang digagalkan nenek saya : Mahadma Bisma Putra
digagalkan, karena nenek saya takut jikalau saya ikut2 sumpahnya raden bisma dewabrata : tidak akan menikah ("-___-)a

